Penyebaran TBC di Palu Mengkhawatirkan, FKM Untad Sebar Ribuan Mahasiswa Tangani Korban

FKM NEWS – Kasus penyebaran Tuberkulosis (TBC) di Kota Palu menunjukkan eskalasi yang kian mengkhawatirkan dan masuk dalam kategori darurat. Menyikapi situasi tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mengambil langkah taktis dengan menginisiasi program inovatif bertajuk Berani Magaya (BErantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga).

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FKM Untad, Dr. Moh. Jusman Rauf, S.KM., M.Kes., mengungkapkan bahwa tingkat penularan TBC di ibu kota Sulawesi Tengah ini sudah pada tahap yang wajib diwaspadai secara kolektif oleh seluruh elemen masyarakat. Terlebih, hasil survei lapangan yang dilakukan oleh civitas akademika FKM Untad menemukan fakta mengejutkan mengenai titik rawan penularan baru.

“Waspada penyebaran TBC di kafe karena biasanya penggunaan sendok yang sama, atau ludah yang menyebar saat duduk nongkrong bersama di kafe,” ujar Jusman Rauf saat memaparkan hasil evaluasi program, kepada wartawan di FKM, Sabtu (26/9/2026), didampingi Dekan FKM, Prof. Dr. Rosmala Nur, S.KM., M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Ahmad Ramadhan, Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum dr. Imade Tangkas, serta Sekretaris Dekan Uci, Rosmala Nur.

Program strategis ini memiliki misi kemanusiaan yang besar, yakni mendampingi pasien TBC hingga sembuh total sekaligus memutus rantai penularan kepada keluarga yang melakukan kontak erat. Gerakan masif ini mendapat apresiasi tingkat nasional hingga peluncurannya turut dihadiri oleh tiga wakil menteri sekaligus, yakni Wakil Menteri Dalam Negeri, Wakil Menteri Kesehatan, dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi.

Saat ini, FKM Untad telah menerjunkan sebanyak 1.073 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti Untad, Unismuh Palu, Poltekkes Kemenkes Palu, STIK, serta Politeknik Palu. Para mahasiswa ini disebar ke sejumlah wilayah meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Toli-Toli, dan Poso. Aktivitas pengabdian ini dikonversi setara dengan beban akademik 5 SKS dari dua mata kuliah tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Berdasarkan data statistik kesehatan, angka kasus TBC di Sulawesi Tengah telah menembus lebih dari 8.000 kasus. Khusus di Kota Palu sendiri, jumlahnya tercatat melampaui 2.000 kasus dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Talise, yang berdekatan langsung dengan kawasan kampus Universitas Tadulako.

Temuan Lapangan: Dominasi Usia Produktif hingga Tantangan di Kafe

Dari hasil evaluasi mahasiswa pendamping di lapangan, terungkap bahwa sebagian besar warga yang terjangkit TBC berada pada rentang usia produktif, sementara kelompok lanjut usia nihil laporan kasus.

Tugas mahasiswa dibagi menjadi dua klaster utama. Pertama, mendampingi pasien aktif TBC untuk memastikan kedisiplinan minum obat setiap hari sampai dinyatakan sembuh. Kedua, mengawasi anggota keluarga atau orang yang kontak erat agar mengonsumsi Terapi Pencegahan TBC (TPT) sekali dalam seminggu.

Kendati demikian, mahasiswa di lapangan sempat menghadapi sejumlah tantangan unik. Salah satunya adalah kendala saat mengedukasi balita berusia dua tahun agar mau menelan obat pencegahan yang ukurannya relatif besar. Selain itu, kondisi lingkungan yang berdebu terbukti memperparah tingkat keparahan (morbiditas) penderita TBC, berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan yang bersih, lapang, dan memiliki sirkulasi udara optimal.

Fakta menarik lainnya yang diungkapkan pihak FKM Untad berkaitan dengan dinamika sosial penderita. Pada kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas, tingkat kepatuhan minum obat sebenarnya cukup tinggi, namun mereka cenderung menutup diri (privasi tinggi) dan kerap meminta sesi pendampingan dilakukan di kafe-kafe.

“Persoalan kemudian adalah mahasiswa kita ini kurang dana untuk mentraktir dia di kafe, begitu. Pada kelompok menengah ke bawah, itu sangat enak sekali mahasiswa kami mendatangi rumahnya untuk diskusi, memberikan edukasi, bagaimana mencegah dan bagaimana memutus rantai penularan TB tersebut,” tutur Jusman.

Melalui gerakan “Berani Magaya”, FKM Untad optimis mata rantai penularan TBC di Sulawesi Tengah dapat ditekan secara signifikan, sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat dari tingkat keluarga hingga ruang publik.(abd)

Sumber : https://kabarselebes.id

Similar Posts