FKM Untad dan Puskesmas Bersinergi ke Level Nasional

FKM NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mendorong model pendampingan pasien tuberkulosis (TB) berbasis mahasiswa dapat diterapkan secara lebih luas sebagai bagian dari upaya mencapai target eliminasi TB di Indonesia.

Dekan FKM Untad Rosmala mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis karena persoalan TB tidak hanya berkaitan dengan pengobatan pasien, tetapi juga kepatuhan menjalani terapi, kontak erat, kondisi lingkungan, dan stigma di masyarakat.

“Kenapa perguruan tinggi terlibat? Karena kami melihat angka TB di Kota Palu masih cukup tinggi. Sebagai perguruan tinggi, kami harus memberikan dampak kepada masyarakat,” kata Rosmala dalam konferensi pers di Aula Dekanat FKM Untad Palu, Sabtu.

Menurut dia, pengobatan TB membutuhkan waktu panjang sehingga kepatuhan pasien menjadi salah satu persoalan penting. Pasien yang tidak konsisten mengonsumsi obat berisiko mengalami kegagalan pengobatan dan resistensi obat.

Karena itu, mahasiswa dilibatkan untuk membantu memantau kepatuhan pasien mengonsumsi obat setiap hari. Sementara keluarga atau kontak erat pasien mendapat pendampingan dan edukasi sebagai bagian dari upaya mencegah munculnya kasus baru.

Rosmala mengatakan, model tersebut lahir dari keterbatasan sumber daya kesehatan dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan pendampingan.

“Yang terbatas adalah sumber daya kesehatan, sementara penyakit TB banyak. Dengan sumber daya kita yang banyak, termasuk mahasiswa, bagaimana mereka mendampingi pasien TB,” ujarnya.Program Berani Magaya disebut sebagai inovasi pendampingan TB yang melibatkan tujuh perguruan tinggi. Total terdapat 1.073 mahasiswa dan 155 dosen pembimbing yang terlibat dalam program tersebut.

Rosmala mengatakan, model tersebut telah diperkenalkan kepada perguruan tinggi lain dan diharapkan dapat dikembangkan secara nasional.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan. Program FKM Untad tidak berjalan sendiri, tetapi menggunakan data dari Dinas Kesehatan dan berkoordinasi dengan puskesmas serta pengelola program TB.

“Ini bukan program yang berjalan sendiri. Kami bersama Dinas Kesehatan, kepala puskesmas, dan penanggung jawab program TB,” katanya.

Berdasarkan data yang disampaikan FKM Untad, kasus TB di Sulawesi Tengah masih mencapai lebih dari 8.000 kasus, sedangkan di Kota Palu lebih dari 2.000 kasus.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perguruan tinggi mengambil bagian dalam upaya eliminasi TB. Rosmala menyebut target eliminasi TB nasional menjadi tantangan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan media.

Dalam evaluasi program, FKM Untad juga menemukan persoalan stigma yang membuat sebagian pasien enggan diketahui status penyakitnya. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat komunikasi dan pendampingan.

Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam program. Masyarakat didorong mengenali gejala TB, antara lain batuk yang berlangsung lama, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas berat, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan.

Rosmala mengingatkan, masyarakat yang mengalami gejala tersebut perlu menjalani pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatannya, bukan langsung menyimpulkan sebagai TB.

“TB bisa disembuhkan. Yang perlu diubah adalah stigma di masyarakat bahwa TB tidak bisa disembuhkan,” ujarnya.

Pada tahap evaluasi lanjutan, program tersebut juga akan mendapat dukungan pemeriksaan menggunakan perangkat rontgen portabel untuk melihat hasil pendampingan di lapangan.

Rosmala berharap model pendampingan berbasis mahasiswa dapat memperkuat program pemerintah sekaligus menjadi bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.“Kalau kita tidak keroyok persoalan ini dan tidak bersama-sama, eliminasi TB akan sulit dicapai,” katanya.

Sumber : https://trenstv45.com

Similar Posts