Berani Magaya Lahir dari Keprihatinan Kasus TB di Sulteng

FKM News-Program Berani Magaya digagas sebagai gerakan kolaboratif untuk membantu memutus rantai penularan tuberkulosis atau TB di Sulawesi Tengah sekaligus meningkatkan kepatuhan pasien menjalani pengobatan. Program tersebut melibatkan perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, pasien dan keluarga dalam upaya pencegahan serta pendampingan TB.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Prof. Rosmala Nur, mengatakan data yang dipelajari menunjukkan jumlah penderita TB di Sulawesi Tengah mencapai lebih dari 8.000 orang, sementara Kota Palu menjadi salah satu wilayah dengan temuan kasus tinggi, sekitar 2.000 kasus pada 2025. Kondisi tersebut mendorong FKM Untad mengambil peran melalui pendampingan pasien, keluarga dan kontak erat sebagai bagian dari konsep kampus berdampak.

Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui kolaborasi Universitas Tadulako dengan Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dan melibatkan tujuh perguruan tinggi. Ketujuh perguruan tinggi tersebut yakni Universitas Tadulako, Universitas Alkhairaat, Universitas Muhammadiyah Palu, Politeknik Kesehatan Kemenkes, Universitas Widya Nusantara, STIK Indonesia Jaya dan STIKES Tompotika.

“Program ini tidak hanya mendampingi pasien TB dalam menjalani pengobatan, mahasiswa juga mendampingi keluarga dan kontak erat pasien untuk mencegah terjadinya infeksi maupun munculnya kasus baru,” ucap Prof. Rosmala dalam Dialog Indonesia Sehat di RRI Palu, Jumat 25 September 2026.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa ditempatkan di 14 puskesmas di Kota Palu untuk membantu edukasi, memantau kepatuhan pengobatan pasien serta mendukung terapi pencegahan bagi kontak erat. Program ini juga mendapat perhatian pemerintah pusat melalui keterlibatan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Wakil Menteri Kesehatan dan Wakil Menteri Dalam Negeri dalam mendorong kolaborasi eliminasi TB menuju target 2030.

Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Sulawesi Tengah, dokter Ryzqa, menilai penanganan TB membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan pengalaman langsung di lapangan.

“Program-program kesehatan itu harus melibatkan banyak pihak dan harus learning by doing. Enggak bisa hanya di belakang meja,” ujar Ryzqa.

Evaluasi program selanjutnya menjadi penting untuk melihat dampaknya terhadap kepatuhan pengobatan serta pencegahan munculnya kasus TB baru di masyarakat.

Sumber : RRI.CO.ID

Similar Posts