<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT</title>
	<atom:link href="https://fkm.untad.ac.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://fkm.untad.ac.id</link>
	<description>UNIVERSITAS TADULAKO</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Oct 2026 02:33:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://fkm.untad.ac.id/wp-content/uploads/2024/11/New-Logo-UNTAD-No-Background-150x150.png</url>
	<title>FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT</title>
	<link>https://fkm.untad.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>350 Mahasiswa Untad Turun Dampingi Pasien TB dan Keluarga</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/10/02/350-mahasiswa-untad-turun-dampingi-pasien-tb-dan-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2026 02:10:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66788</guid>

					<description><![CDATA[FKM NEWS – Sekitar 350 mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) turun ke lapangan untuk mendampingi pasien tuberkulosis (TB) sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Pendampingan tersebut merupakan bagian dari Program Berani Magaya yang digagas Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad untuk membantu pasien menjalani pengobatan hingga tuntas...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM NEWS – Sekitar 350 mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) turun ke lapangan untuk mendampingi pasien tuberkulosis (TB) sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendampingan tersebut merupakan bagian dari Program Berani Magaya yang digagas Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad untuk membantu pasien menjalani pengobatan hingga tuntas sekaligus mencegah munculnya kasus baru di lingkungan keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dekan FKM Untad Rosmala mengatakan, mahasiswa memiliki dua sasaran utama dalam pendampingan, yakni pasien TB dan anggota keluarga yang menjadi kontak erat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Untuk pasien, pendampingan sampai sembuh. Kalau keluarga, memastikan tidak ada lagi pasien baru yang muncul,” kata Rosmala saat konferensi pers di Aula Dekanat FKM Untad Palu, Sabtu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pasien, mahasiswa mendampingi dan memantau kepatuhan menjalani pengobatan setiap hari. Pendamping juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menyelesaikan terapi serta berkomunikasi dengan keluarga dan tenaga kesehatan apabila terdapat kendala selama pengobatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara pada keluarga yang menjadi kontak erat, pendampingan diarahkan pada edukasi dan pemantauan sesuai ketentuan program pencegahan TB. Mahasiswa membantu keluarga memahami risiko penularan, mengenali gejala, dan mengikuti langkah pemeriksaan atau pencegahan yang dianjurkan tenaga kesehatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Rosmala, pelaksanaan di lapangan menghadapi beragam kondisi. Salah satunya ketika mahasiswa mendampingi anak berusia sekitar dua tahun yang mengalami kesulitan mengonsumsi obat karena ukuran obat relatif besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mahasiswa mengedukasi bahwa tanpa minum obat, mereka termasuk kelompok rentan,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program tersebut telah berjalan sekitar tiga minggu sejak mahasiswa mulai turun ke lapangan pada Agustus 2026. Rosmala mengatakan evaluasi awal menunjukkan hasil yang baik, meski mahasiswa masih menemukan sejumlah persoalan di lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satunya kondisi lingkungan tempat tinggal pasien. Kepadatan hunian dan kondisi rumah yang kurang mendukung menjadi perhatian karena dapat memengaruhi risiko penularan. Karena itu, mahasiswa turut memberikan edukasi mengenai kebersihan lingkungan, ventilasi, dan perilaku pencegahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa juga menemukan persoalan stigma dan privasi pasien. Sebagian pasien, terutama dari kelompok ekonomi menengah ke atas, cenderung tidak bersedia menerima kunjungan pendamping di rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kelompok yang ekonominya bagus kepatuhan minum obatnya tinggi, tetapi sangat menjaga privasi. Ada yang tidak mau didatangi di rumah dan memilih bertemu di kafe,” kata Rosmala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara pada kelompok masyarakat menengah ke bawah, mahasiswa relatif lebih mudah melakukan kunjungan rumah untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan dan pemutusan rantai penularan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala mengatakan, data sasaran pendampingan berasal dari Dinas Kesehatan. FKM Untad kemudian berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, puskesmas, dan penanggung jawab program TB dalam pelaksanaan pendampingan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Data yang kami dapatkan tentunya dari Dinas Kesehatan. Kami bersama kepala-kepala puskesmas dan penanggung jawab program TB bergerak di masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit TB,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program Berani Magaya sejak awal melibatkan tujuh perguruan tinggi dengan total 1.073 mahasiswa dan 155 dosen pembimbing. Khusus FKM dan Fakultas Kedokteran Untad, mahasiswa yang terlibat sekitar 350 orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sasaran program tidak hanya berada di Kota Palu, tetapi juga mencakup sejumlah wilayah, di antaranya Sigi, Tolitoli, Poso, dan Luwu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala berharap keterlibatan mahasiswa dapat memperkuat upaya pemerintah dalam menemukan, mendampingi, dan memastikan pasien TB menyelesaikan pengobatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“TB bisa disembuhkan. Yang perlu kita ubah adalah stigma bahwa TB merupakan penyakit yang memalukan dan tidak bisa disembuhkan,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:14px"><em>Sumber : media.alkhairaat.id</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berani Magaya Libatkan 1.073 Mahasiswa Berantas TB</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/26/berani-magaya-libatkan-1-073-mahasiswa-berantas-tb/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 02:31:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66800</guid>

					<description><![CDATA[FKM NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako (FKM Untad) mendorong program Berani Magaya agar dapat berkembang menjadi program nasional sebagai bagian dari upaya mendukung target eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030. Hal itu disampaikan Dekan FKM Untad, Prof. Dr. Rosmala Nur, S.KM., M.Si., di ruang rapat Dekan FKM Untad, Sabtu (26/9/2026). “Saya berharap program-program andalan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako (FKM Untad) mendorong program Berani Magaya agar dapat berkembang menjadi program nasional sebagai bagian dari upaya mendukung target eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu disampaikan Dekan FKM Untad, Prof. Dr. Rosmala Nur, S.KM., M.Si., di ruang rapat Dekan FKM Untad, Sabtu (26/9/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya berharap program-program andalan FKM itu, termasuk Berani Magaya ini, menjadi program nasional. Tolong didukung penuh,” ujar Prof. Rosmala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berani Magaya merupakan akronim dari “Bersama Bergerak, Berantas TB: Mahasiswa JaGa dan saYAng Keluarga.” Program tersebut bertujuan mendukung target eliminasi TB 2030, meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, serta memutus mata rantai penularan infeksi TB, khususnya di lingkungan keluarga dan kontak erat pasien.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program Berani Magaya resmi diluncurkan pada puncak Dies Natalis ke-9 FKM Untad, 22 Agustus 2026, di Auditorium Universitas Tadulako.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pelaksanaannya, mahasiswa diterjunkan untuk mendampingi pasien TB agar disiplin mengonsumsi obat hingga menyelesaikan pengobatan. Selain itu, mahasiswa juga mendampingi keluarga yang melakukan kontak erat dengan pasien untuk memastikan pencegahan dan pemantauan terhadap kemungkinan munculnya kasus baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program tersebut pada tahap awal melibatkan 1.073 mahasiswa dan 155 orang pembimbing, dengan dukungan tujuh perguruan tinggi. Sasaran program tersebar di empat kabupaten, yakni Sigi, Poso, Tolitoli dan Parigi Moutong.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam program tersebut karena mereka tidak hanya berperan sebagai pendamping pasien, tetapi juga sebagai agen edukasi di tengah masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendampingan dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan. Selanjutnya, mahasiswa bekerja bersama Dinas Kesehatan, kepala Puskesmas, penanggung jawab program TB, serta tim kesehatan di wilayah sasaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prof. Rosmala mengatakan, pendekatan tersebut diperlukan karena penanganan TB tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang telah teridentifikasi. Keluarga dan orang yang melakukan kontak erat juga perlu mendapat perhatian untuk mencegah munculnya kasus baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tujuannya adalah pertama mendampingi pasien TB, kemudian memutus rantai TB pada keluarga yang kontak erat dengan pasien,” jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memberikan dampak nyata kepada masyarakat. Karena itu, keterlibatan FKM Untad dalam program penanggulangan TB menjadi bagian dari implementasi kampus yang berdampak melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menambahkan, tantangan lain dalam penanggulangan TB adalah kepatuhan pasien menjalani pengobatan yang membutuhkan waktu cukup panjang. Edukasi dan pendampingan menjadi penting agar pasien tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, stigma di masyarakat terhadap pasien TB juga perlu diubah. TB bukan penyakit keturunan dan dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan sesuai ketentuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prof. Rosmala juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama ini komunikasi antara FKM Untad dan insan pers belum berjalan maksimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya mohon maaf jika selama ini kami masih kurang berinteraksi dengan teman-teman,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ke depan, ia memastikan pihak FKM Untad akan membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan media dan kembali mengundang wartawan untuk meliput berbagai kegiatan kampus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya akan undang lagi teman-teman untuk terlibat dalam meliput seluruh kegiatan,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui Berani Magaya, FKM Untad berharap keterlibatan perguruan tinggi, mahasiswa, tenaga kesehatan, pemerintah, keluarga, masyarakat dan media dapat semakin diperkuat untuk mendukung upaya eliminasi TB di Sulawesi Tengah menuju target 2030.</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:14px"><em>Sumber : <a href="https://mediasuarapalu.id">https://mediasuarapalu.id</a></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyebaran TBC di Palu Mengkhawatirkan, FKM Untad Sebar Ribuan Mahasiswa Tangani Korban</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/26/penyebaran-tbc-di-palu-mengkhawatirkan-fkm-untad-sebar-ribuan-mahasiswa-tangani-korban/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 02:25:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66797</guid>

					<description><![CDATA[FKM NEWS – Kasus penyebaran Tuberkulosis (TBC) di Kota Palu menunjukkan eskalasi yang kian mengkhawatirkan dan masuk dalam kategori darurat. Menyikapi situasi tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mengambil langkah taktis dengan menginisiasi program inovatif bertajuk Berani Magaya (BErantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga). Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FKM...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM NEWS – Kasus penyebaran Tuberkulosis (TBC) di Kota Palu menunjukkan eskalasi yang kian mengkhawatirkan dan masuk dalam kategori darurat. Menyikapi situasi tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mengambil langkah taktis dengan menginisiasi program inovatif bertajuk Berani Magaya (BErantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FKM Untad, Dr. Moh. Jusman Rauf, S.KM., M.Kes., mengungkapkan bahwa tingkat penularan TBC di ibu kota Sulawesi Tengah ini sudah pada tahap yang wajib diwaspadai secara kolektif oleh seluruh elemen masyarakat. Terlebih, hasil survei lapangan yang dilakukan oleh civitas akademika FKM Untad menemukan fakta mengejutkan mengenai titik rawan penularan baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Waspada penyebaran TBC di kafe karena biasanya penggunaan sendok yang sama, atau ludah yang menyebar saat duduk nongkrong bersama di kafe,” ujar Jusman Rauf saat memaparkan hasil evaluasi program, kepada wartawan di FKM, Sabtu (26/9/2026), didampingi Dekan FKM, Prof. Dr. Rosmala Nur, S.KM., M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Ahmad Ramadhan, Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum dr. Imade Tangkas, serta Sekretaris Dekan Uci, Rosmala Nur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program strategis ini memiliki misi kemanusiaan yang besar, yakni mendampingi pasien TBC hingga sembuh total sekaligus memutus rantai penularan kepada keluarga yang melakukan kontak erat. Gerakan masif ini mendapat apresiasi tingkat nasional hingga peluncurannya turut dihadiri oleh tiga wakil menteri sekaligus, yakni Wakil Menteri Dalam Negeri, Wakil Menteri Kesehatan, dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini, FKM Untad telah menerjunkan sebanyak 1.073 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti Untad, Unismuh Palu, Poltekkes Kemenkes Palu, STIK, serta Politeknik Palu. Para mahasiswa ini disebar ke sejumlah wilayah meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Toli-Toli, dan Poso. Aktivitas pengabdian ini dikonversi setara dengan beban akademik 5 SKS dari dua mata kuliah tanpa dipungut biaya sepeser pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data statistik kesehatan, angka kasus TBC di Sulawesi Tengah telah menembus lebih dari 8.000 kasus. Khusus di Kota Palu sendiri, jumlahnya tercatat melampaui 2.000 kasus dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Talise, yang berdekatan langsung dengan kawasan kampus Universitas Tadulako.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Temuan Lapangan: Dominasi Usia Produktif hingga Tantangan di Kafe</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari hasil evaluasi mahasiswa pendamping di lapangan, terungkap bahwa sebagian besar warga yang terjangkit TBC berada pada rentang usia produktif, sementara kelompok lanjut usia nihil laporan kasus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tugas mahasiswa dibagi menjadi dua klaster utama. Pertama, mendampingi pasien aktif TBC untuk memastikan kedisiplinan minum obat setiap hari sampai dinyatakan sembuh. Kedua, mengawasi anggota keluarga atau orang yang kontak erat agar mengonsumsi Terapi Pencegahan TBC (TPT) sekali dalam seminggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kendati demikian, mahasiswa di lapangan sempat menghadapi sejumlah tantangan unik. Salah satunya adalah kendala saat mengedukasi balita berusia dua tahun agar mau menelan obat pencegahan yang ukurannya relatif besar. Selain itu, kondisi lingkungan yang berdebu terbukti memperparah tingkat keparahan (morbiditas) penderita TBC, berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan yang bersih, lapang, dan memiliki sirkulasi udara optimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fakta menarik lainnya yang diungkapkan pihak FKM Untad berkaitan dengan dinamika sosial penderita. Pada kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas, tingkat kepatuhan minum obat sebenarnya cukup tinggi, namun mereka cenderung menutup diri (privasi tinggi) dan kerap meminta sesi pendampingan dilakukan di kafe-kafe.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Persoalan kemudian adalah mahasiswa kita ini kurang dana untuk mentraktir dia di kafe, begitu. Pada kelompok menengah ke bawah, itu sangat enak sekali mahasiswa kami mendatangi rumahnya untuk diskusi, memberikan edukasi, bagaimana mencegah dan bagaimana memutus rantai penularan TB tersebut,” tutur Jusman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui gerakan “Berani Magaya”, FKM Untad optimis mata rantai penularan TBC di Sulawesi Tengah dapat ditekan secara signifikan, sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat dari tingkat keluarga hingga ruang publik.(abd)</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:14px"><em>Sumber : <a href="https://kabarselebes.id">https://kabarselebes.id</a></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>FKM Untad dan Puskesmas Bersinergi ke Level Nasional</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/26/fkm-untad-dan-puskesmas-bersinergi-ke-level-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 02:21:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66794</guid>

					<description><![CDATA[FKM NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mendorong model pendampingan pasien tuberkulosis (TB) berbasis mahasiswa dapat diterapkan secara lebih luas sebagai bagian dari upaya mencapai target eliminasi TB di Indonesia. Dekan FKM Untad Rosmala mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis karena persoalan TB tidak hanya berkaitan dengan pengobatan pasien, tetapi juga kepatuhan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mendorong model pendampingan pasien tuberkulosis (TB) berbasis mahasiswa dapat diterapkan secara lebih luas sebagai bagian dari upaya mencapai target eliminasi TB di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dekan FKM Untad Rosmala mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis karena persoalan TB tidak hanya berkaitan dengan pengobatan pasien, tetapi juga kepatuhan menjalani terapi, kontak erat, kondisi lingkungan, dan stigma di masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kenapa perguruan tinggi terlibat? Karena kami melihat angka TB di Kota Palu masih cukup tinggi. Sebagai perguruan tinggi, kami harus memberikan dampak kepada masyarakat,” kata Rosmala dalam konferensi pers di Aula Dekanat FKM Untad Palu, Sabtu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut dia, pengobatan TB membutuhkan waktu panjang sehingga kepatuhan pasien menjadi salah satu persoalan penting. Pasien yang tidak konsisten mengonsumsi obat berisiko mengalami kegagalan pengobatan dan resistensi obat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, mahasiswa dilibatkan untuk membantu memantau kepatuhan pasien mengonsumsi obat setiap hari. Sementara keluarga atau kontak erat pasien mendapat pendampingan dan edukasi sebagai bagian dari upaya mencegah munculnya kasus baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala mengatakan, model tersebut lahir dari keterbatasan sumber daya kesehatan dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan pendampingan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Yang terbatas adalah sumber daya kesehatan, sementara penyakit TB banyak. Dengan sumber daya kita yang banyak, termasuk mahasiswa, bagaimana mereka mendampingi pasien TB,” ujarnya.Program Berani Magaya disebut sebagai inovasi pendampingan TB yang melibatkan tujuh perguruan tinggi. Total terdapat 1.073 mahasiswa dan 155 dosen pembimbing yang terlibat dalam program tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala mengatakan, model tersebut telah diperkenalkan kepada perguruan tinggi lain dan diharapkan dapat dikembangkan secara nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan. Program FKM Untad tidak berjalan sendiri, tetapi menggunakan data dari Dinas Kesehatan dan berkoordinasi dengan puskesmas serta pengelola program TB.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini bukan program yang berjalan sendiri. Kami bersama Dinas Kesehatan, kepala puskesmas, dan penanggung jawab program TB,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data yang disampaikan FKM Untad, kasus TB di Sulawesi Tengah masih mencapai lebih dari 8.000 kasus, sedangkan di Kota Palu lebih dari 2.000 kasus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perguruan tinggi mengambil bagian dalam upaya eliminasi TB. Rosmala menyebut target eliminasi TB nasional menjadi tantangan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan media.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam evaluasi program, FKM Untad juga menemukan persoalan stigma yang membuat sebagian pasien enggan diketahui status penyakitnya. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat komunikasi dan pendampingan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam program. Masyarakat didorong mengenali gejala TB, antara lain batuk yang berlangsung lama, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas berat, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala mengingatkan, masyarakat yang mengalami gejala tersebut perlu menjalani pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatannya, bukan langsung menyimpulkan sebagai TB.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“TB bisa disembuhkan. Yang perlu diubah adalah stigma di masyarakat bahwa TB tidak bisa disembuhkan,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahap evaluasi lanjutan, program tersebut juga akan mendapat dukungan pemeriksaan menggunakan perangkat rontgen portabel untuk melihat hasil pendampingan di lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala berharap model pendampingan berbasis mahasiswa dapat memperkuat program pemerintah sekaligus menjadi bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.“Kalau kita tidak keroyok persoalan ini dan tidak bersama-sama, eliminasi TB akan sulit dicapai,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:14px"><em>Sumber : <a href="https://trenstv45.com">https://trenstv45.com</a></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>FKM Untad Dorong Model Pendampingan TB Diterapkan Secara Nasional</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/26/fkm-untad-dorong-model-pendampingan-tb-diterapkan-secara-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 02:15:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66791</guid>

					<description><![CDATA[FKM NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mendorong model pendampingan pasien tuberkulosis (TB) berbasis mahasiswa diterapkan lebih luas sebagai bagian dari upaya mencapai target eliminasi TB di Indonesia. Dekan FKM Untad Rosmala mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam penanggulangan TB karena persoalan penyakit tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) mendorong model pendampingan pasien tuberkulosis (TB) berbasis mahasiswa diterapkan lebih luas sebagai bagian dari upaya mencapai target eliminasi TB di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dekan FKM Untad Rosmala mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam penanggulangan TB karena persoalan penyakit tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga kepatuhan pasien menjalani terapi, kontak erat, kondisi lingkungan, hingga stigma di masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kenapa perguruan tinggi terlibat? Karena kami melihat angka TB di Kota Palu masih cukup tinggi. Sebagai perguruan tinggi, kami harus memberikan dampak kepada masyarakat,” kata Rosmala dalam konferensi pers di Aula Dekanat FKM Untad Palu, Sabtu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Program Berani Magaya, mahasiswa berperan sebagai pendamping pasien selama menjalani pengobatan. Pendampingan dilakukan dengan membantu memantau kepatuhan pasien mengonsumsi obat setiap hari serta memberikan edukasi agar pasien memahami pentingnya menyelesaikan pengobatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa juga berinteraksi dengan keluarga dan kontak erat pasien. Mereka memberikan edukasi mengenai TB dan membantu memastikan anggota keluarga memahami langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan maupun menemukan gejala sejak dini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan pola tersebut, mahasiswa tidak mengambil alih peran tenaga kesehatan dalam pengobatan. Mereka menjadi bagian dari sistem pendampingan di masyarakat, sementara penanganan medis dan pengelolaan terapi tetap dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala mengatakan, model tersebut menjadi salah satu cara menjawab keterbatasan sumber daya kesehatan dibandingkan dengan jumlah pasien yang membutuhkan pendampingan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Yang terbatas adalah sumber daya kesehatan, sementara penyakit TB banyak. Dengan sumber daya kita yang banyak, termasuk mahasiswa, bagaimana mereka mendampingi pasien TB,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program Berani Magaya melibatkan tujuh perguruan tinggi dengan dukungan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen pembimbing. Mahasiswa mendapat pendampingan dari dosen dalam menjalankan tugas di lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelaksanaan program juga tidak berdiri sendiri. FKM Untad menggunakan data dari Dinas Kesehatan dan berkoordinasi dengan puskesmas serta pengelola program TB untuk memastikan pendampingan berjalan sesuai kebutuhan pasien.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini bukan program yang berjalan sendiri. Kami bersama Dinas Kesehatan, kepala puskesmas, dan penanggung jawab program TB,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data yang disampaikan FKM Untad, kasus TB di Sulawesi Tengah masih mencapai lebih dari 8.000 kasus, sedangkan di Kota Palu lebih dari 2.000 kasus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain kepatuhan pengobatan, evaluasi program menemukan persoalan stigma yang membuat sebagian pasien enggan status penyakitnya diketahui. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat komunikasi dan proses pendampingan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam program. Masyarakat didorong mengenali gejala TB, seperti batuk berkepanjangan, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas berat, penurunan nafsu makan, dan berat badan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala mengingatkan, gejala tersebut tidak serta-merta berarti seseorang terkena TB sehingga perlu dipastikan melalui pemeriksaan kesehatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“TB bisa disembuhkan. Yang perlu diubah adalah stigma di masyarakat bahwa TB tidak bisa disembuhkan,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahap evaluasi lanjutan, program tersebut juga akan didukung pemeriksaan menggunakan perangkat rontgen portabel untuk melihat hasil pendampingan di lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala berharap model pendampingan berbasis mahasiswa dapat memperkuat program pemerintah sekaligus menjadi bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau kita tidak keroyok persoalan ini dan tidak bersama-sama, eliminasi TB akan sulit dicapai,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:14px"><em>Sumber : media.alkhairaat.id</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ratusan Mahasiswa di Sulteng Turun Tangan Dampingi Pasien TB Selama Enam Bulan</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/26/ratusan-mahasiswa-di-sulteng-turun-tangan-dampingi-pasien-tb-selama-enam-bulan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 01:57:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66785</guid>

					<description><![CDATA[FKM News &#8211; Sebanyak 350 mahasiswa dilibatkan dalam program Berani Magaya untuk mendampingi pasien tuberkulosis (TB) di Kota Palu. Mahasiswa berasal dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako serta sejumlah perguruan tinggi lainnya. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Prof. Dr. Rosmala Nur, mengatakan mahasiswa bertugas mendampingi pasien agar patuh menjalani pengobatan. Pendampingan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM News &#8211; Sebanyak 350 mahasiswa dilibatkan dalam program Berani Magaya untuk mendampingi pasien tuberkulosis (TB) di Kota Palu. Mahasiswa berasal dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Prof. Dr. Rosmala Nur, mengatakan mahasiswa bertugas mendampingi pasien agar patuh menjalani pengobatan. Pendampingan juga diberikan kepada keluarga dan kontak erat pasien untuk mencegah penularan baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Mahasiswa yang terlibat tersebar di 14 puskesmas di Kota Palu. Mereka tidak hanya mengawasi kepatuhan minum obat, tetapi juga memberikan edukasi mengenai pencegahan penularan TB,&#8221; kata Rosmala dalam Dialog Indonesia Sehat di RRI Palu, Jumat 25 September 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Kepala Labkesda Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Ryzqo, menjelaskan pengobatan TB harus dijalani hingga tuntas meskipun gejala pasien telah berkurang. Penghentian pengobatan terlalu dini dapat meningkatkan risiko masalah pengobatan, termasuk TB resisten obat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kuman TB ini bisa dorman, tinggal di dalam paru-paru dalam jangka waktu yang lama. Makanya harus pengobatannya enam bulan,&#8221; ujar dr. Ryzqo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program Berani Magaya juga memberikan perhatian kepada keluarga dan kontak erat pasien yang tinggal serumah. Pendampingan dan edukasi diharapkan membantu meningkatkan kepatuhan pengobatan, mencegah penularan, serta memperkuat pemahaman masyarakat tentang TB, sementara evaluasi program akan melihat kondisi pasien dan kemungkinan munculnya kasus baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala berharap keterlibatan mahasiswa sekaligus menjadi pengalaman pembelajaran langsung agar mereka memahami persoalan kesehatan masyarakat secara lebih nyata.</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:14px"><em>Sumber : RRI.CO.ID</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tuberkulosis Bisa Sembuh, Jangan Biarkan Stigma Menghalangi</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/26/tuberkulosis-bisa-sembuh-jangan-biarkan-stigma-menghalangi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 01:52:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66782</guid>

					<description><![CDATA[FKM News &#8211; Stigma terhadap penderita tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan penyakit tersebut di masyarakat. Kondisi ini membuat sebagian pasien memilih menyembunyikan penyakitnya sehingga proses pendampingan dan pengobatan menjadi lebih sulit. Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Ryzqa, mengatakan anggapan bahwa TB merupakan penyakit yang harus disembunyikan perlu dihilangkan....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM News &#8211; Stigma terhadap penderita tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan penyakit tersebut di masyarakat. Kondisi ini membuat sebagian pasien memilih menyembunyikan penyakitnya sehingga proses pendampingan dan pengobatan menjadi lebih sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Ryzqa, mengatakan anggapan bahwa TB merupakan penyakit yang harus disembunyikan perlu dihilangkan. Menurutnya, pasien TB dapat sembuh apabila menjalani pengobatan secara rutin dan tuntas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Stigma bahwa TB adalah penyakit yang harus disembunyikan perlu kita hilangkan. Pasien TB bisa sembuh, asalkan rutin menjalani pengobatan sampai tuntas dan tidak menghentikan obat sebelum waktunya,” ujar Ryzqa dalam program Indonesia Sehat di RRI Palu, Jumat 25 September 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Prof. Rosmala, mengatakan penanganan TB membutuhkan kolaborasi perguruan tinggi, mahasiswa, fasilitas kesehatan dan masyarakat. Mahasiswa yang terlibat dalam program Berani Magaya dibekali kemampuan memberikan edukasi, semangat dan empati agar pasien tidak merasa dikucilkan selama menjalani pengobatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosmala mengungkapkan, terdapat pasien yang berobat di rumah sakit di Kota Palu tetapi berasal dari luar daerah sehingga pendampingan langsung menjadi tantangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kondisi ini jadi tantangan kita karena pasien hanya datang mengambil obat kemudian kembali ke daerah asal sehingga sulit mendapatkan pendampingan langsung,” ujar Rosmala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendampingan melalui komunikasi jarak jauh juga dipertimbangkan untuk membantu pasien tetap memperoleh dukungan selama menjalani terapi.</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:14px"><em>Sumber : RRI.CO.ID</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Skrining TB Diminta Tak Menunggu Gejala Berat</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/26/skrining-tb-diminta-tak-menunggu-gejala-berat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 01:47:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66779</guid>

					<description><![CDATA[FKM News-Masyarakat di Sulawesi Tengah diminta tidak menunggu gejala berat untuk melakukan pemeriksaan tuberkulosis atau TB. Skrining sejak dini dinilai penting agar kasus dapat ditemukan dan ditangani lebih cepat, sekaligus mencegah penularan di lingkungan sekitar. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Prof. Dr. Rosmala Nur, mengatakan pemerintah tengah mengembangkan skrining TB yang terintegrasi dengan pemeriksaan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM News-Masyarakat di Sulawesi Tengah diminta tidak menunggu gejala berat untuk melakukan pemeriksaan tuberkulosis atau TB. Skrining sejak dini dinilai penting agar kasus dapat ditemukan dan ditangani lebih cepat, sekaligus mencegah penularan di lingkungan sekitar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Prof. Dr. Rosmala Nur, mengatakan pemerintah tengah mengembangkan skrining TB yang terintegrasi dengan pemeriksaan kesehatan. Menurutnya, masyarakat tidak harus menunggu mengalami batuk berkepanjangan untuk mendapatkan pemeriksaan, karena skrining dapat dilakukan berdasarkan gejala maupun faktor risiko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemeriksaan berbasis komunitas juga akan melibatkan tim puskesmas untuk melakukan skrining di tengah masyarakat. Prof. Rosmala mengatakan Kementerian Kesehatan berencana menyediakan alat rontgen atau X-ray portabel untuk mendukung skrining TB di Sulawesi Tengah, sehingga pemeriksaan dapat dilakukan di berbagai lokasi yang lebih dekat dengan masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Sulawesi Tengah, dokter Ryzqa, menjelaskan pemeriksaan TB dapat dilakukan melalui sejumlah metode sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan dahak atau sputum menjadi salah satu metode, sedangkan pemeriksaan lanjutan dapat menggunakan PCR dan alat pemeriksaan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebaiknya masyarakat berkonsultasi dengan dokter apabila memiliki gejala atau faktor risiko TB, nanti dokter dapat memberikan pengantar untuk menentukan jenis pemeriksaan laboratorium yang sesuai dengan kondisi pasien,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prof. Rosmala mengajak masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan skrining TB apabila tersedia di wilayah masing-masing. Program Berani Magaya juga mendorong masyarakat menjalani skrining, pengobatan dan pencegahan penularan TB melalui kolaborasi perguruan tinggi, fasilitas kesehatan dan pemerintah untuk memperkuat penemuan kasus serta memutus rantai penularan di Sulawesi Tengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:14px"><em>Sumber : RRI.CO.ID</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berani Magaya Lahir dari Keprihatinan Kasus TB di Sulteng</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/26/berani-magaya-lahir-dari-keprihatinan-kasus-tb-di-sulteng/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 01:41:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66776</guid>

					<description><![CDATA[FKM News-Program Berani Magaya digagas sebagai gerakan kolaboratif untuk membantu memutus rantai penularan tuberkulosis atau TB di Sulawesi Tengah sekaligus meningkatkan kepatuhan pasien menjalani pengobatan. Program tersebut melibatkan perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, pasien dan keluarga dalam upaya pencegahan serta pendampingan TB. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Prof. Rosmala Nur, mengatakan data yang dipelajari...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM News-Program Berani Magaya digagas sebagai gerakan kolaboratif untuk membantu memutus rantai penularan tuberkulosis atau TB di Sulawesi Tengah sekaligus meningkatkan kepatuhan pasien menjalani pengobatan. Program tersebut melibatkan perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, pasien dan keluarga dalam upaya pencegahan serta pendampingan TB.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Prof. Rosmala Nur, mengatakan data yang dipelajari menunjukkan jumlah penderita TB di Sulawesi Tengah mencapai lebih dari 8.000 orang, sementara Kota Palu menjadi salah satu wilayah dengan temuan kasus tinggi, sekitar 2.000 kasus pada 2025. Kondisi tersebut mendorong FKM Untad mengambil peran melalui pendampingan pasien, keluarga dan kontak erat sebagai bagian dari konsep kampus berdampak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui kolaborasi Universitas Tadulako dengan Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dan melibatkan tujuh perguruan tinggi. Ketujuh perguruan tinggi tersebut yakni Universitas Tadulako, Universitas Alkhairaat, Universitas Muhammadiyah Palu, Politeknik Kesehatan Kemenkes, Universitas Widya Nusantara, STIK Indonesia Jaya dan STIKES Tompotika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Program ini tidak hanya mendampingi pasien TB dalam menjalani pengobatan, mahasiswa juga mendampingi keluarga dan kontak erat pasien untuk mencegah terjadinya infeksi maupun munculnya kasus baru,” ucap Prof. Rosmala dalam Dialog Indonesia Sehat di RRI Palu, Jumat 25 September 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pelaksanaannya, mahasiswa ditempatkan di 14 puskesmas di Kota Palu untuk membantu edukasi, memantau kepatuhan pengobatan pasien serta mendukung terapi pencegahan bagi kontak erat. Program ini juga mendapat perhatian pemerintah pusat melalui keterlibatan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Wakil Menteri Kesehatan dan Wakil Menteri Dalam Negeri dalam mendorong kolaborasi eliminasi TB menuju target 2030.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Sulawesi Tengah, dokter Ryzqa, menilai penanganan TB membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan pengalaman langsung di lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Program-program kesehatan itu harus melibatkan banyak pihak dan harus learning by doing. Enggak bisa hanya di belakang meja,” ujar Ryzqa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Evaluasi program selanjutnya menjadi penting untuk melihat dampaknya terhadap kepatuhan pengobatan serta pencegahan munculnya kasus TB baru di masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph" style="font-size:12px"><em>Sumber : RRI.CO.ID</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>FKM UNTAD JALIN KOLABORASI DENGAN PENERBIT BUKULOKA UNTUK MENDORONG PENERBITAN BUKU KARYA DOSEN DAN MAHASISWA</title>
		<link>https://fkm.untad.ac.id/2026/09/23/fkm-untad-jalin-kolaborasi-dengan-penerbit-bukuloka-untuk-mendorong-penerbitan-buku-karya-dosen-dan-mahasiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 07:19:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fkm.untad.ac.id/?p=66696</guid>

					<description><![CDATA[FKM-UNTAD-Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako terus memperkuat komitmennya dalam mendorong budaya literasi dan produktivitas akademik melalui rencana kolaborasi dengan Penerbit BukuLoka dalam penerbitan buku karya dosen dan mahasiswa. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk membuka ruang bagi civitas akademika FKM UNTAD dalam mengembangkan, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan gagasan serta karya intelektual melalui publikasi buku yang berkualitas....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FKM-UNTAD-Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako terus memperkuat komitmennya dalam mendorong budaya literasi dan produktivitas akademik melalui rencana kolaborasi dengan Penerbit BukuLoka dalam penerbitan buku karya dosen dan mahasiswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk membuka ruang bagi civitas akademika FKM UNTAD dalam mengembangkan, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan gagasan serta karya intelektual melalui publikasi buku yang berkualitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan ini dihadiri oleh Prof. Dr. Rosmala Nur, S.KM., M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, bersama pihak Penerbit BukuLoka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui kerja sama ini, diharapkan semakin banyak karya inspiratif dan inovatif dari dosen maupun mahasiswa yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kesehatan masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Page Caching using Disk: Enhanced 
Minified using Disk

Served from: fkm.untad.ac.id @ 2026-10-02 14:50:02 by W3 Total Cache
-->